Sebagai seorang manusia, salah satu perasaan yang paling akrab denganku adalah kekecewaan. Rasa kecewa muncul dari berbagai bagian hidupku, mulai dari IP semester yang tidak sesuai harapan, janji main yang dibatalkan teman, gagal bangun pagi, atau sekadar bapak bilung yang tidak berjualan. Kekecewaan terjadi karena adanya ekspektasi, kurasa hal itu sudah sering diungkapkan. Aku setuju dengan hal itu. Akan tetapi, bukan berarti aku kemudian menjadi selalu mawas diri dan tidak pernah terjebak ekspektasi. Masih berkali-kali aku kecewa karena banyak hal, terutama karena hal-hal yang tidak berada dalam kendaliku. Namun, dari berbagai kekecewaan yang pernah kurasakan, kecewa yang paling mengecewakan adalah yang bersumber dari diriku sendiri. Iya, aku tau, pada dasarnya semua berasal dari ekspektasi yang kutumbuhkan sendiri. Namun, maksudku adalah ketika kita sendiri yang membuat ekspektasi tersebut tidak terwujud. Beberapa hari yang lalu, aku menonton ulang serial adaptasi dari...
Pray. Play. Learn. Respect. Love. Life. Laugh. Smile. Sing. Dance!