Sebagai seorang manusia, salah satu perasaan yang paling
akrab denganku adalah kekecewaan. Rasa kecewa muncul dari berbagai bagian hidupku,
mulai dari IP semester yang tidak sesuai harapan, janji main yang dibatalkan
teman, gagal bangun pagi, atau sekadar bapak bilung yang tidak berjualan.
Kekecewaan terjadi karena adanya ekspektasi, kurasa hal itu
sudah sering diungkapkan. Aku setuju dengan hal itu. Akan tetapi, bukan berarti
aku kemudian menjadi selalu mawas diri dan tidak pernah terjebak ekspektasi.
Masih berkali-kali aku kecewa karena banyak hal, terutama karena hal-hal yang
tidak berada dalam kendaliku. Namun, dari berbagai kekecewaan yang pernah
kurasakan, kecewa yang paling mengecewakan adalah yang bersumber dari diriku
sendiri.
Iya, aku tau, pada dasarnya semua berasal dari ekspektasi
yang kutumbuhkan sendiri. Namun, maksudku adalah ketika kita sendiri yang
membuat ekspektasi tersebut tidak terwujud.
Beberapa hari yang lalu, aku menonton ulang serial adaptasi
dari buku John Green yang berjudul Looking for Alaska. Aku akan
menceritakan secara singkat mengenai serial ini. Untuk teman-teman yang
tertarik membaca dan tidak ingin terkena spoiler, silakan skip beberapa paragraph
berikut sampai aku memberi tanda OKE AMAN.
Serial ini terdiri atas 8 episode. Pada episode awal-awal,
Alaska, seorang cewek yang menjadi pusat dari cerita ini, digambarkan sebagai
cewek cantik, penuh petualangan, pintar, dan sedikit misterius. Pada
pertengahan, mulai diungkap lebih dalam mengenai masa lalu Alaska. Ibunya
meninggal ketika ia berusia 10 tahun karena serangan jantung. Alaska yang saat
itu hanya di rumah berdua dengan ibunya, tidak melakukan apa-apa pada waktu
kejadian. Ayahnya yang pulang sejam kemudian menemukan Alaska kecil Bersama istrinya
yang sudah meninggal dan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan amarahnya.
Alaska merasa bersalah atas kejadian tersebut.
Pada suatu malam setelah bermabukan bersama Pudge dan Colonel, Alaska menerima telepon yang ternyata dari mantan pacarnya. Setelah menerima telepon itu, Alaska histeris kemudian meminta Pudge dan Colonel membantunya kabur dari sekolah asrama mereka. Pudge dan Colonel tidak tau kemana Alaska pergi dan tidak sempat terlalu banyak bertanya.
Esoknya, mereka menerima kabar bahwa Alaska mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
![]() |
| Alaska Young diperankan oleh Kristine Froseth |
OKE AMAN. Mungkin.
Kurasa, John Green sengaja tidak menjelaskan apa yang
terjadi malam itu secara gamblang. Pembaca (dan penonton) dibiarkan kebingungan
bersama tokoh lain dan hanya mengetahui kepingan informasi tanpa benar-benar
mengetahui apa yang dipikirkan Alaska. Namun, salah satu dugaan dari Pudge dan Colonel
(SPOILER LAGI), Alaska baru ingat bahwa hari itu adalah hari kematian ibunya
dan ia kecewa pada dirinya sendiri karena lupa, kemudian buru-buru pergi ke
makam ibunya.
Mengenai apakah kekecewaan itu menyebabkan Alaska memilih
bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya atau memang hanya merupakan kecelakaan,
aku tidak yakin. Yang aku yakini, malam itu Alaska benar-benar kecewa pada
dirinya sendiri. Ketika ia kembali ke kamar dan meminta Pudge serta Colonel
untuk membantunya kabur, ia berkata ‘berapa kali aku bisa mengacau?’ atau semacamnya.
Kekecewaan terhadap diri sendiri membebani Alaska sebegitu
beratnya.
Selain Alaska, tokoh lain yang dihantam kekecewaan adalah
Julius Caesar.
Kurasa.
Mungkin sebagian teman-teman sudah tau siapa Julius Caesar,
intinya dia orang yang sangat berpengaruh di Roma, sampai-sampai orang-orang
khawatir dia akan jadi dictator dan menghancurkan Roma. Maka, orang-orang itu
bersekutu dan berkonspirasi untuk membunuh Julius Caesar di dalam sebuah forum
yang sedang dipimpinnya. Ia ditusuk 23 kali dan masih terus melawan, sampai ia
melihat bahwa sahabat terdekatnya, Brutus, juga ikut menyerangnya. Ia pun
berhenti melawan dan berkata, ‘Et tu, Brute?’ (even you, Brutus?) kemudian menyerah
dan meninggal. Video : https://youtu.be/wgPymD-NBQU
Ngomong-ngomong itu versi Shakespeare ya.
![]() |
| This 1888 painting by William Holmes Sullivan is named Et tu Brute and is located in the Royal Shakespeare Theatre. |
Aku bertanya mengenai hal ini kepada beberapa orang, ‘Kepada
siapa sebenarnya kekecewaan Julius Caesar tertuju?’
Ternyata ada 3 jawaban berbeda yang kudapat.
1.
Terhadap Brutus, tentu saja. Karena ia merasa
dikhianati oleh sahabat baiknya sendiri.
2.
Terhadap dirinya sendiri, karena jika sahabatnya
saja ikut melawan, berarti memang ada yang salah dengan kepemimpinannya.
3.
Terhadap dirinya sendiri, karena salah memilih
teman.
Tentu saja pertanyaan dan jawaban tersebut mungkin tidak
sempurna, mungkin karena kekurangtepatankuu dalam menyampaikan narasi kepada
teman-temanku atau karena hal lain. Namun, yang ingin kusoroti adalah, betapa
sebuah kekecewaan layaknya sebuah peluru yang bisa terarah ke mana saja.
Ketika kita berkata atau mendengar seseorang berkata ‘aku
kecewa’, ada pertanyaan yang kemudian muncul. Kepada siapa? Mengapa?
Secara pribadi, aku lebih sering dikecewakan oleh diriku
sendiri daripada oleh orang lain. Namun, kurasa aku juga sering mengecewakan
orang lain. Oleh karena itu, di momen malam Idulfitri kali ini, aku ingin
meminta maaf kepada pembaca tulisan ini, atas ekspektasi yang tidak dapat
kupenuhi yang berbuah kekecewaan kalian terhadapku. Kurasa, kecewa itu perlu,
entah agar kita tau bahwa ada ekspektasi yang perlu disederhanakan, atau usaha yang
perlu dimaksimalkan.
Selamat hari raya Idulfitri!
-irtupard-


Komentar
Posting Komentar