Langsung ke konten utama

Will You Miss Me?



Bakal kangen aku ra?
Will you miss me?

Beberapa dari teman-temanku menerima pesan semacam itu dariku malam itu.
Aku mengirim pesan itu kepada 54 kontak whatsapp. Tidak semuanya terkirim, beberapa sudah berganti nomor dan alhasil pesan itu tidak sampai. Tapi Alhamdulillah 95% sampai.
Beberapa langsung menjawab, beberapa bertanya ‘ngopo e Put?’

Jadi, kenapa?

Diawali percakapan dengan salah seorang teman (Jamil, haha), kami membicarakan tentang satu kalimat pendek. ‘People change’. Kami membahas beberapa teori khas remaja (haha) seperti bahwa ‘semua orang berubah, hanya saja ketika seseorang berubah dan seorang yang lain berubah, perubahan mereka bisa menuju ke arah yang sama dan cocok atau menuju arah yang berlawanan yang membuat mereka merasa tidak menyukai satu sama lain’. Selain itu juga teori bahwa ‘seseorang selalu berubah menjadi seseorang yang dia bilang tidak akan jadi seperti itu’.
Apaan sih, hehe.

Lalu aku mulai bertanya-tanya, ‘Aku juga berubah dong?’

Perubahan bisa membawa bermacam-macam akibat. Misalnya, keinginan untuk meninggalkan seseorang…
Apa hubungannya dengan pertanyaan ‘bakal kangen aku ra?’
Nggak ada sih. Hehe.

Cuma tiba-tiba ingat film Paper Towns (atau bukunya). Ketika Margo memutuskan untuk ‘menghilang’, Quentin kelabakan untuk mencari (bahkan di bukunya, Quentin berpikir bahwa Margo sudah meninggal). Lacey juga. Tapi orangtua Margo malah menganggap hal itu wajar dan memutuskan untuk membiarkan Margo menghilang.
Padahal Margo adalah seorang cewek yang luar biasa. Kita bisa dikenang atau dirindukan karena banyak hal. Margo adalah banyak hal. Dia manis bagi pacarnya, baik hati bagi temannya, mengagumkan bagi Quentin, nakal bagi orangtuanya. Tapi nyatanya, tidak semua orang merindukannya.

Lalu, aku?

Nah, didasari pemikiran dan keingintahuan itu, aku mengirim pesan itu ke 54 kontak Whatsappku. Aku ingin tau, If (or when) I leave, will I be missing or will I just be gone?
Ketika akan mengirim semua pesan itu, aku sudah menyiapkan mental (haha) agar tidak terlalu berharap pada jawaban teman-teman sehingga pada akhirnya aku tidak akan kecewa. Aku mengharap kejujuran, bukan kepalsuan, eak ….

Jadi begini hasilnya :
6 orang berkata bahwa mereka tidak akan merindukanku
43 orang berkata bahwa mereka akan merindukanku
Sisanya tidak memberikan respon.
Dari 43 orang yang berkata bahwa mereka akan merindukanku, 31 orang secara langsung berkata ‘akan’ merindukanku. Sisanya menyertakan kemungkinan dan alasan.
Artinya?

Tidak ada yang perlu diartikan. Ketika menjawab pertanyaanku, setiap orang sedang mengalami berbagai hal yang berbeda secara spesifik. Mungkin jika malam ini aku bertanya lagi, jawaban mereka akan berbeda. Tapi tak apa. People change.

Terima kasih atas responnya, teman-teman. Bahkan untuk kalian yang memutuskan untuk tidak menjawab pesan ataupun tidak merindukan. ‘tidak menjawab’ adalah sebuah respon. ‘tidak merindukan’ juga sebuah respon. Aku sudah menyiapkan mental, kan?

Well, guys…
I’ll miss you all. Secara spesifik dan berbeda…

Love,
-irtupard-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

why birthdays are sad

  Hari ulangtahun adalah hari yang secara umum dianggap sebagai hari bahagia . Sebagian orang mungkin menganggap ulangtahun sebagai hari biasa , tidak ada yang perlu dirayakan . Keduanya valid, kita semua punya alasan ( ataupun tidak ). Kita mungkin sudah sering mendengar kedua hal tersebut , orang yang menganggap hari ulangtahun sebagai hari spesial dan orang yang biasa saja . Namun , taukah kamu beberapa orang justru sedih atau sendu pada hari ulangtahunnya ?   Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai birthday blues , sebagian yang lain menyebutnya sebagai birthday depression . M ungkin ad a banya k nam a dan sebuta n lain untu k fenom en a in i . Jau h sebelu m ak u mula i mencar i tah u mengena i ha l in i , ak u suda h serin g bertanya-tany a kepad a dirik u sendir i , mengap a serin g kali ak u meras a send u , sedi h , gunda h , gala u , meran a pada har i ulang tahunk u ? Peras...

About November

Ketika aku menulis ini, di luar sedang hujan. Aku sedang mengambil jeda sejenak di antara jadwal belajarku untuk mempersiapkan UTS semester 7. UTS kali ini, aku belajar lebih banyak, karena lebih banyak ketertinggalan yang kumiliki. Meski semester lalu sudah menjalani rutinitas yang kurang lebih sama, belajar di rumah dalam artian yang sebenarnya, namun semester ini banyak hal yang berbeda. Tidak ada lagi hitung-hitungan memusingkan kepala, yang ada adalah materi yang menuntut ketenangan dan kejernihan pemahaman. Sambil menulis ini, selain ditemani deru deras hujan, playlist Spotify berjudul    it's raining and you're looking at the window at 2 am   meminjamiku tambahan nuansa sendu. Untuk pertamakalinya dalam empat tahun, aku menikmati November di rumah. November tidak dikenal sebagai bulan apa-apa bagi sebagian orang, kecuali kawan-kawan kampus yang mungkin mengasosiasikan November dengan UTS. Namun bagiku, November tentu saja bulan yang tidak biasa. Aku tidak se...