Langsung ke konten utama

why birthdays are sad

 Hari ulangtahun adalah hari yang secara umum dianggap sebagai hari bahagia. Sebagian orang mungkin menganggap ulangtahun sebagai hari biasa, tidak ada yang perlu dirayakan. Keduanya valid, kita semua punya alasan (ataupun tidak). Kita mungkin sudah sering mendengar kedua hal tersebut, orang yang menganggap hari ulangtahun sebagai hari spesial dan orang yang biasa saja. Namun, taukah kamu beberapa orang justru sedih atau sendu pada hari ulangtahunnya? 

Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai birthday blues, sebagian yang lain menyebutnya sebagai birthday depression. Mungkin ada banyak nama dan sebutan lain untuk fenomena ini. Jauh sebelum aku mulai mencari tahu mengenai hal ini, aku sudah sering bertanya-tanya kepada diriku sendiri, mengapa sering kali aku merasa sendu, sedih, gundah, galau, merana pada hari ulangtahunku? Perasaan menderita itu bahkan sering kali datang jauh sebelum hari ulangtahun itu sendiri tiba. 

Meski disebut sebagai “depression”, fenomena ini bukan merupakan suatu diagnosa klinis yang dapat diberikan kepada seseorang. Penelitian mengenai fenomena ini juga belum terlalu banyak dilakukan. Akan tetapi, fenomena atau perasaan ini merupakan hal yang nyata dan dialami oleh tidak sedikit orang. 

Beberapa orang mungkin memiliki bayangan seperti apa hari ulangtahun ideal yang mereka harapkan untuk terjadi mulai dari kue ulangtahun lucu, pesta perayaan besar atau kecil yang dibuat oleh orang terdekat, atau ucapan hangat dari kawan yang sudah lama tidak berkomunikasi. Ketika bayangan ideal itu tidak terjadi, baik sebagian atau seluruhnya, rasa kecewa mungkin saja muncul bersamaan dengan perasaan lain seperti sedih dan tidak bersemangat. Hal itu bisa menjadi salah satu penyebab munculnya birthday blues. 

Bagi orang-orang dengan kerawanan overthinking (uhm, seperti siapa ya), hal itu juga dapat kemudian memunculkan pikiran lain seperti keraguan akan tingkat kedekatan dengan orang-orang yang selama ini kita anggap sahabat, membandingkan diri dengan orang lain dan ulangtahun mereka di media sosial, atau perasaan rendah diri terhadap pencapaian hidup kita: apakah keadaanku saat ini pantas dirayakan? 

Ada banyak kondisi atau hal lain yang mungkin menjadi penyebab munculnya birthday blues. Pengalaman buruk di masa lalu, ketakutan atau kekhawatiran terhadap penuaan, anggapan bahwa kondisi puncak sudah berlalu, atau sekadar karakteristik seorang introvert dapat menjadi penyebab kesenduan di hari ulangtahun. 

Apabila kalian adalah salah satu orang yang sudah pernah merasakan birthday blues, jangan khawatir, kalian bukannya tidak berdaya. Ada hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau meredam perasaan tersebut. Kita bisa merencanakan sendiri hari sempurna kita tanpa bergantung pada orang lain. Apabila kita memang tidak ingin merayakan ulangtahun, terdapat alternatif yang mungkin lebih cocok untuk kita yang kurang suka dengan hingar bingar seperti menulis jurnal dan melakukan refleksi diri terhadap apa yang sudah kita lalui dan pencapaian kita selama satu tahun. Kita juga bisa memilih opsi untuk tetap menjalani hari kita seperti biasa tanpa perayaan dengan tetap mengikuti rutinitas yang kita miliki. 

Jika setelah seluruh upaya itu pun perasaan sendu dan sedih tetap merayapi, tidak ada salahnya kita menyambut perasaan tersebut dan berdamai dengannya. Be gentle to yourself. Apapun yang kau rasakan, perasaan itu valid. 

Selamat ulangtahun. 

 

Referensi: 

Koster, A. (no date) Yes, there’s a reason why you cry on your birthday every year, Birthday Depression: Why You Cry On Your Birthday. Available at: https://www.refinery29.com/en-gb/birthday-depression (Accessed: 09 October 2023). 

Edwards, V.V. (2020) Birthday depression: Why birthdays are so hard, Science of People. Available at: https://www.scienceofpeople.com/birthday-depression/ (Accessed: 09 October 2023). 

x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About November

Ketika aku menulis ini, di luar sedang hujan. Aku sedang mengambil jeda sejenak di antara jadwal belajarku untuk mempersiapkan UTS semester 7. UTS kali ini, aku belajar lebih banyak, karena lebih banyak ketertinggalan yang kumiliki. Meski semester lalu sudah menjalani rutinitas yang kurang lebih sama, belajar di rumah dalam artian yang sebenarnya, namun semester ini banyak hal yang berbeda. Tidak ada lagi hitung-hitungan memusingkan kepala, yang ada adalah materi yang menuntut ketenangan dan kejernihan pemahaman. Sambil menulis ini, selain ditemani deru deras hujan, playlist Spotify berjudul    it's raining and you're looking at the window at 2 am   meminjamiku tambahan nuansa sendu. Untuk pertamakalinya dalam empat tahun, aku menikmati November di rumah. November tidak dikenal sebagai bulan apa-apa bagi sebagian orang, kecuali kawan-kawan kampus yang mungkin mengasosiasikan November dengan UTS. Namun bagiku, November tentu saja bulan yang tidak biasa. Aku tidak se...

Will You Miss Me?

Bakal kangen aku ra? Will you miss me? Beberapa dari teman-temanku menerima pesan semacam itu dariku malam itu. Aku mengirim pesan itu kepada 54 kontak whatsapp. Tidak semuanya terkirim, beberapa sudah berganti nomor dan alhasil pesan itu tidak sampai. Tapi Alhamdulillah 95% sampai. Beberapa langsung menjawab, beberapa bertanya ‘ngopo e Put?’ Jadi, kenapa? Diawali percakapan dengan salah seorang teman (Jamil, haha), kami membicarakan tentang satu kalimat pendek. ‘People change’. Kami membahas beberapa teori khas remaja (haha) seperti bahwa ‘semua orang berubah, hanya saja ketika seseorang berubah dan seorang yang lain berubah, perubahan mereka bisa menuju ke arah yang sama dan cocok atau menuju arah yang berlawanan yang membuat mereka merasa tidak menyukai satu sama lain’. Selain itu juga teori bahwa ‘seseorang selalu berubah menjadi seseorang yang dia bilang tidak akan jadi seperti itu’. Apaan sih, hehe. Lalu aku mulai bertanya-tanya, ‘Aku juga berubah don...