Ketika aku menulis ini, di luar
sedang hujan. Aku sedang mengambil jeda sejenak di antara jadwal belajarku
untuk mempersiapkan UTS semester 7. UTS kali ini, aku belajar lebih banyak,
karena lebih banyak ketertinggalan yang kumiliki.
Meski semester lalu sudah
menjalani rutinitas yang kurang lebih sama, belajar di rumah dalam artian yang
sebenarnya, namun semester ini banyak hal yang berbeda. Tidak ada lagi
hitung-hitungan memusingkan kepala, yang ada adalah materi yang menuntut
ketenangan dan kejernihan pemahaman.
Sambil menulis ini, selain
ditemani deru deras hujan, playlist Spotify berjudul it's raining and you're looking at the window at 2 am meminjamiku tambahan nuansa sendu. Untuk
pertamakalinya dalam empat tahun, aku menikmati November di rumah. November tidak
dikenal sebagai bulan apa-apa bagi sebagian orang, kecuali kawan-kawan kampus
yang mungkin mengasosiasikan November dengan UTS. Namun bagiku, November tentu
saja bulan yang tidak biasa.
Aku tidak sedang membicarakan
ulangtahunku. Tentu saja, ulang tahunku adalah hari yang special bagiku. Setiap
tahun menandai satuan hitungan beputarnya bumi mengelilingi matahari dalam
jalur yang relatif sama sejak jutaan tahun yang lalu yang kebetulan bertepatan
dengan hari keluarnya aku dari Rahim ibuku. Sangat istimewa, bukan?
Yang sedang kubicarakan adalah
sesuatu yang sudah lama hilang, namun masih selalu terasa seperti November yang
sama. Sesuatu yang tidak ingin sering-sering kuakui, namun selalu menghantui. Sesuatu
yang berusaha ditutupi, namun selalu berhasil menampakkan diri.
Sesuatu yang tidak akan terulang
kembali.
Sebuah kalender yang sudah
melewati masa relevansinya terabaikan di rumah kami. Aku menyadari keberadaan
kalender itu setiap hari, namun tidak sedikitpun berniat untuk memindahkan atau
menyingkirkannya. Kalender itu berada di lokasi yang sama sejak terakhir kali
tanggal-tanggal yang ditampakkannya menjadi berarti, meski tanggal itu bukan
tanggal terakhir kami menempati, melewati, atau menggunakan ruangan tempat kalender
itu berada. Beberapa tahun yang lalu, tata letak ruangan diganti dan kalender
itu tertutupi sebuah lemari kayu besar. Namun kalender itu masih berada di sana,
menunjukkan tanggal, bulan, dan tahun yang sama.
November 2016
Aku tidak – belum – akan menceritakan
apa yang terjadi pada bulan itu, namun aku yakin pada November November
berikutnya, aku masih akan mengintip melalui celah di antara tembok dengan
lemari kayu untuk memastikan bahwa kalender itu masih di sana.
![]() |
| foto diambil November 2020 |

Komentar
Posting Komentar