Kenapa judulnya 2nd?
Yah, karena yang pertama kemarin 'First Post'.
Enggak juga sih, sebenarnya, itu hanya satu di anatar beberapa alasan. Alasan yang lain, karena kemarin akhirnya jadi 2nd winner di Casello Cup Debate Competition. Agak kecewa, tapi tidak terlalu. Lawannya katanya anak kelas sebelas atau duabelas, tapi toh, ketika terima piala, tidak akan disebutkan lawannya kelas berapa. Kalah ya kalah.
Alasan yang lain, karena belakangan aku merasa selalu jadi nomor dua, cadangan, timun wungkuk jaga imbuh, dll., dll. Misalnya? Tidak usah disebutkan contoh peristiwanya, takut menyakiti hati orang.
Mungkin hanya karena kurang bersyukur, jadi masih ngedumel ketika dapat juara dua. Masih mangkel ketika dapat kesempatan setelah orang lain sudah mencoba.
Maklum laaah, teenager ini....
Lalu kenapa kalau teenager? Entah, mungkin labil adalah hal yang wajar bagi kami.
Rasanya serasa seperti sepatunya Bambang Pamungkas. Dekat sekali dengan kamera dan kehidupan yang kelip-kelip, tetapi selalu ada yang menutupi dan terlihat lebih keren, hebat, dan sebagainya. Misalnya : pemakainya -_-
Sudah, sudah Putri. Bersyukurlah. Allah selalu ada. Lain kali, ketika kamu sedang mendengarkan lagu, lalu ada orang yang mengajakmu bicara, merem saja! Apa lagi kalau lagunya bagus dan kamu sedang ingin bergoyang. Toh orang yang sedianya ingin mengajakmu bicara belum tentu membawa kabar baik yang bisa membuat bahagia. Terkadang malah bikin sedih. Banget.
Sesat sedikit, tapi aku percaya semua orang sudah punya filter yang cukup baik untuk menyaring hal-hal buruk yang dibaca.
Lagipula, tulisan ini hanya absurd, bukan buruk :D
Demikian, tulisan ini saya buat. Semoga pada tulisan selanjutnya, judulnya bukan '3rd'.
(Foto bersama orang baik, mantan muridnya Bapak, Firstian la Nina Al Bahri)
Yah, karena yang pertama kemarin 'First Post'.
Enggak juga sih, sebenarnya, itu hanya satu di anatar beberapa alasan. Alasan yang lain, karena kemarin akhirnya jadi 2nd winner di Casello Cup Debate Competition. Agak kecewa, tapi tidak terlalu. Lawannya katanya anak kelas sebelas atau duabelas, tapi toh, ketika terima piala, tidak akan disebutkan lawannya kelas berapa. Kalah ya kalah.
Alasan yang lain, karena belakangan aku merasa selalu jadi nomor dua, cadangan, timun wungkuk jaga imbuh, dll., dll. Misalnya? Tidak usah disebutkan contoh peristiwanya, takut menyakiti hati orang.
Mungkin hanya karena kurang bersyukur, jadi masih ngedumel ketika dapat juara dua. Masih mangkel ketika dapat kesempatan setelah orang lain sudah mencoba.
Maklum laaah, teenager ini....
Lalu kenapa kalau teenager? Entah, mungkin labil adalah hal yang wajar bagi kami.
Rasanya serasa seperti sepatunya Bambang Pamungkas. Dekat sekali dengan kamera dan kehidupan yang kelip-kelip, tetapi selalu ada yang menutupi dan terlihat lebih keren, hebat, dan sebagainya. Misalnya : pemakainya -_-
Sudah, sudah Putri. Bersyukurlah. Allah selalu ada. Lain kali, ketika kamu sedang mendengarkan lagu, lalu ada orang yang mengajakmu bicara, merem saja! Apa lagi kalau lagunya bagus dan kamu sedang ingin bergoyang. Toh orang yang sedianya ingin mengajakmu bicara belum tentu membawa kabar baik yang bisa membuat bahagia. Terkadang malah bikin sedih. Banget.
Sesat sedikit, tapi aku percaya semua orang sudah punya filter yang cukup baik untuk menyaring hal-hal buruk yang dibaca.
Lagipula, tulisan ini hanya absurd, bukan buruk :D
Demikian, tulisan ini saya buat. Semoga pada tulisan selanjutnya, judulnya bukan '3rd'.

gak akan selalu jadi nomer 2, lagi! :D
BalasHapus