23 Desember 2017 - 01 Januari 2018
Pulang pertamaku setelah 5 bulan menjalani berbagai proses sebagai Mahasiswi Baru di PKN STAN.
Teman-teman yang lain pulang setelah Dinamika untuk menunggu Capacity Building, aku dan Pandan, teman sekamarku, tidak. Banyak alasan yang menyebabkan kami tidak pulang waktu itu. Tidak kami sesali, meski membuat rindu kami lebih tebal daripada teman-teman yang lain.
Ah, rindu...
Ketika akhirnya aku pulang minggu lalu, aku membawa harapan besar. Aku berharap akan bisa merasakan rasanya berada di 'rumah' di mana aku tumbuh besar. Aku berharap akan bisa kembali berkumpul bersama teman-teman lama, kembali bermain dan tertawa bersama.
Nyatanya tidak begitu.
Ketika aku sampai di rumah, Tembong, kucingku yang sangat kurindukan, tidak ada di rumah. Kata Ibuku, Tembong sudah tidak pulang selama dua hari. Setengah putus asa, aku memanggilnya dengan cukup keras. Dia tetap tidak pulang hari itu.
Kemudian, aku menyadari cukup banyak hal yang berubah pada rumahku. Rumahku dulunya tidak berpagar tinggi, semua orang bisa melihat dari berbagai arah. Sekarang, setelah Ayahku meninggal dan aku harus merantau ke Bintaro untuk kuliah, Ibuku yang berada di rumah sendiri merasa insecure dan akhirnya memutuskan untuk memasang pagar di sekeliling rumah kami.
Ternyata justru setelah pagar di pasang, rumah kami kemasukan maling.
Maling itu mengambil laptop tua kami dan tablet milik Ayahku yang sekarang memang jarang digunakan. Namun bukan karena hal itu yang membuatku merasa kehilangan. Di dalam laptop itu tersimpan foto-foto keluarga kami sejak lama sekali, foto ketika kakakku wisuda, ketika kakakku menikah, ketika kami berlibur bersama, atau sekedar foto kucing-kucing kami dulu. Banyak dari foto-foto itu yang belum sempat dicetak dan tidak ada back upnya. Salahku, memang. Selain itu, di tablet itu juga terdapat foto-foto terakhir Ayahku ketika berada di rumah sakit. Sama, foto itu juga tidak ada back upnya.
Ketika aku membuka kulkas di rumah kami, aku terkejut melihat betapa kosongnya kulkas kami. Hanya terdapat satu kotak tempe, seplastik buncis, dan sebutir telur yang ternyata sudah tidak layak olah. Ketika aku bertanya, Ibuku menjelaskan bahwa beliau lebih sering makan di luar daripada memasak sendiri.
Pada malam ketiga aku di rumah, aku membaca buku harian lamaku dan menemukan surat-surat ucapan ulangtahun dari Zulfa dan Ari sejak tahun 2013. Lalu aku baru sadar bahwa kami sudah merayakan banyak sekali ulangtahun bersama. Kami belum sempat bertemu hari itu. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa menghabiskan setengah hari bersama kedua sahabat terbaikku itu. Setengah hari yang kami habiskan dengan duduk di rumah dan wisata kuliner di alun-alun kota.
Esoknya, aku merencanakan untuk berkumpul bersama teman-teman SMAku. Hanya sedikit yang bisa datang, sedikit yang akhirnya pergi ke Parangtritis bersamaku untuk menikmati senja.
Esoknya lagi, Ibuku mengajakku untuk pergi ke Borobudur. Aku cukup senang, sudah lama aku tidak mengunjungi Borobudur. Tapi ternyata, setelah sampai di sana, Ibuku memutuskan untuk tinggal di bawah dan menyuruhku untuk naik berdua bersama Zulfa saja.
Pada malam tahun baru, aku dan teman-teman SMAku membuat rencana untuk berkumpul dan bakar-bakar. Ada 12 orang yang datang malam itu. Kami pun bakar-bakar dan makan bersama sampai pukul 10 malam. Tidak, kami tidak melewatkan tahun baru bersama.
Ketika sampai di rumah, Ibuku juga sudah pulang dari rumah nenek. Ibuku mengajakku untuk melihat kembang api dari Puncak Powono, tapi baru berencana untuk pergi ke sana menjelang pukul 12. Ibuku memutuskan untuk tidur dulu dan meminta aku membangunkannya menjelang pukul 12. Menjelang pukul 12, aku membangunkan ibuku. Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tetap tidur sampai pagi.
Apakah aku kecewa?
Ya, sedikit.
Tapi bukan berarti aku tidak mensyukuri kepulanganku. Bukan berarti aku tidak mensyukuri ketika pada hari ke tiga di rumah, Tembong akhirnya pulang dan menemaniku tidur siang. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa menghabiskan satu sore gerimis bersama Zulfa dan Ari. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa merasakan kebersamaan bersama teman-teman SMAku lagi. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ibuku sehat dan bahagia.
Bukan berarti aku tidak mensyukuri masih bisa mengunjungi makam ayahku dan memperbarui semangat dan motivasiku untuk belajar di sini dan membuatnya bangga.
Karena hal yang terpenting dari sebuah kepulangan adalah bahwa kamu masih tau ke mana harus pulang.
Selamat Tahun Baru 2018
-irtupard-
Pulang pertamaku setelah 5 bulan menjalani berbagai proses sebagai Mahasiswi Baru di PKN STAN.
Teman-teman yang lain pulang setelah Dinamika untuk menunggu Capacity Building, aku dan Pandan, teman sekamarku, tidak. Banyak alasan yang menyebabkan kami tidak pulang waktu itu. Tidak kami sesali, meski membuat rindu kami lebih tebal daripada teman-teman yang lain.
Ah, rindu...
Ketika akhirnya aku pulang minggu lalu, aku membawa harapan besar. Aku berharap akan bisa merasakan rasanya berada di 'rumah' di mana aku tumbuh besar. Aku berharap akan bisa kembali berkumpul bersama teman-teman lama, kembali bermain dan tertawa bersama.
Nyatanya tidak begitu.
Ketika aku sampai di rumah, Tembong, kucingku yang sangat kurindukan, tidak ada di rumah. Kata Ibuku, Tembong sudah tidak pulang selama dua hari. Setengah putus asa, aku memanggilnya dengan cukup keras. Dia tetap tidak pulang hari itu.
Kemudian, aku menyadari cukup banyak hal yang berubah pada rumahku. Rumahku dulunya tidak berpagar tinggi, semua orang bisa melihat dari berbagai arah. Sekarang, setelah Ayahku meninggal dan aku harus merantau ke Bintaro untuk kuliah, Ibuku yang berada di rumah sendiri merasa insecure dan akhirnya memutuskan untuk memasang pagar di sekeliling rumah kami.
Ternyata justru setelah pagar di pasang, rumah kami kemasukan maling.
Maling itu mengambil laptop tua kami dan tablet milik Ayahku yang sekarang memang jarang digunakan. Namun bukan karena hal itu yang membuatku merasa kehilangan. Di dalam laptop itu tersimpan foto-foto keluarga kami sejak lama sekali, foto ketika kakakku wisuda, ketika kakakku menikah, ketika kami berlibur bersama, atau sekedar foto kucing-kucing kami dulu. Banyak dari foto-foto itu yang belum sempat dicetak dan tidak ada back upnya. Salahku, memang. Selain itu, di tablet itu juga terdapat foto-foto terakhir Ayahku ketika berada di rumah sakit. Sama, foto itu juga tidak ada back upnya.
Ketika aku membuka kulkas di rumah kami, aku terkejut melihat betapa kosongnya kulkas kami. Hanya terdapat satu kotak tempe, seplastik buncis, dan sebutir telur yang ternyata sudah tidak layak olah. Ketika aku bertanya, Ibuku menjelaskan bahwa beliau lebih sering makan di luar daripada memasak sendiri.
Pada malam ketiga aku di rumah, aku membaca buku harian lamaku dan menemukan surat-surat ucapan ulangtahun dari Zulfa dan Ari sejak tahun 2013. Lalu aku baru sadar bahwa kami sudah merayakan banyak sekali ulangtahun bersama. Kami belum sempat bertemu hari itu. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa menghabiskan setengah hari bersama kedua sahabat terbaikku itu. Setengah hari yang kami habiskan dengan duduk di rumah dan wisata kuliner di alun-alun kota.
Esoknya, aku merencanakan untuk berkumpul bersama teman-teman SMAku. Hanya sedikit yang bisa datang, sedikit yang akhirnya pergi ke Parangtritis bersamaku untuk menikmati senja.
Esoknya lagi, Ibuku mengajakku untuk pergi ke Borobudur. Aku cukup senang, sudah lama aku tidak mengunjungi Borobudur. Tapi ternyata, setelah sampai di sana, Ibuku memutuskan untuk tinggal di bawah dan menyuruhku untuk naik berdua bersama Zulfa saja.
Pada malam tahun baru, aku dan teman-teman SMAku membuat rencana untuk berkumpul dan bakar-bakar. Ada 12 orang yang datang malam itu. Kami pun bakar-bakar dan makan bersama sampai pukul 10 malam. Tidak, kami tidak melewatkan tahun baru bersama.
Ketika sampai di rumah, Ibuku juga sudah pulang dari rumah nenek. Ibuku mengajakku untuk melihat kembang api dari Puncak Powono, tapi baru berencana untuk pergi ke sana menjelang pukul 12. Ibuku memutuskan untuk tidur dulu dan meminta aku membangunkannya menjelang pukul 12. Menjelang pukul 12, aku membangunkan ibuku. Beliau berubah pikiran dan memutuskan untuk tetap tidur sampai pagi.
Apakah aku kecewa?
Ya, sedikit.
Tapi bukan berarti aku tidak mensyukuri kepulanganku. Bukan berarti aku tidak mensyukuri ketika pada hari ke tiga di rumah, Tembong akhirnya pulang dan menemaniku tidur siang. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa menghabiskan satu sore gerimis bersama Zulfa dan Ari. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa merasakan kebersamaan bersama teman-teman SMAku lagi. Bukan berarti aku tidak mensyukuri bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ibuku sehat dan bahagia.
Bukan berarti aku tidak mensyukuri masih bisa mengunjungi makam ayahku dan memperbarui semangat dan motivasiku untuk belajar di sini dan membuatnya bangga.
Karena hal yang terpenting dari sebuah kepulangan adalah bahwa kamu masih tau ke mana harus pulang.
Selamat Tahun Baru 2018
-irtupard-
Komentar
Posting Komentar