Awalnya, Sashi berpikir bahwa apa yang sedang ia lakukan adalah ide yang buruk.
Mereka sudah lama tidak bertemu, kurang lebih sejak hari wisuda SMA mereka. Dan sekarang, enam bulan sudah berlalu. Sashi sudah menghabiskan hampir sebulan di Wates, namun baru sore ini, menjelang keberangkatannya kembali ke Bintaro, mereka menyepakati untuk bertemu.
Apalagi, sebelum pagi itu, mereka jarang sekali berkomunikasi meski lewat media sosial apapun. Sesekali mereka saling menyapa, namun tak pernah lebih dari beberapa chat bubble percakapan mereka.
Elio berdiri dan tersenyum ketika melihat Sashi turun dari mobil ibunya. Setelah melalui penjelasan yang cukup panjang tentang mengapa ia meminta ibunya untuk mengantarkannya ke Alun-Alun Wates alih-alih stasiun, Sashi berhasil meyakinkan ibunya untuk mengantarnya dan langsung pulang.
Elio terlihat jauh berbeda dari ketika terakhir kali Sashi melihatnya. Ia tak bisa secara tepat menyebutkan perbedaannya, namun ia bisa melihat dan merasakannya. Mungkin senyumannya yang jauh lebih percaya diri? Atau sorot matanya yang tegas?
"Halo..."
Sashi belum mampu berkata-kata, jadi ia hanya tersenyum. Pertemuan dengan Elio adalah salah satu hal yang paling ia tunggu-tunggu sejak hari pertama ia meninggalkan Wates. Rindu, ya. Ia sangat merindukan anak laki-laki yang sekarang berdiri di depannya.
"Bawa barang segitu aja?" tanya Elio sambil menunjuk ransel dan kardus yang dibawa Sashi.
Sashi mengangguk. Kali ini ia berusaha berkata-kata. Namun, ia hanya mampu mengeluarkan gumaman kecil.
"Sini, duduk..."
Mereka lalu duduk di sebuah bangku kecil yang tadi diduduki Elio. Suasana di sekitar Malioprogo cukup ramai pada Sabtu sore itu. Ya, Malioprogo adalah sebuah taman baru yang dibangun di sekitar kompleks Alun-Alun Wates yang menyerupai Jalan Malioboro di Kota Yogyakarta. Belum sebesar dan seramai itu, namun Malioprogo adalah sebuah tempat yang indah untuk menikmati matahari terbenam.
Seperti saat itu.
Matahari masih cukup tinggi, namun suasana senja mulai terbentuk. Beberapa pemuda yang datang ke Alun-Alun untuk lari sore mulai menghentikan aktivitasnya dan beristirahat di sekitar tempat itu. Di bagian yang lebih ramai dari Alun-Alun, beberapa keluarga kecil yang ingin menikmati malam Minggu bersama mulai berdatangan.
"Apa kabar?" tanya Elio setelah mereka duduk.
"Baik," Sashi akhirnya mampu berkata. "Kamu?"
Elio menatap Sashi beberapa detik sebelum menjawab. "Baik dong. Lumayan sibuk juga di kampus."
Elio terus memaparkan tentang kegiatan sehari-harinya di kampus, bagaimana ia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang normalnya tidak diikuti mahasiswa baru sepertinya. Sashi menyimak dengan baik, meski sebagian detail sudah diketahuinya lewat update instastory maupun whatsapp story yang rutin dibagikan Elio setiap hari. Meski begitu, ia masih terkejut akan betapa berbedanya Elio yang dulu satu SMA dengannya, dengan Elio yang sedang bercerita di hadapannya.
Dulu, Elio adalah siswa yang tidak menyukai perhatian. Ia tidak suka jika guru menunjuknya untuk maju ke depan atau menjawab pertanyaan. Ia tidak suka jika ia diminta untuk menjadi petugas upacara. Setiap hal yang tidak disukainya selalu ia ceritakan kepada Sashi melalui diskusi-diskusi panjang dan dalam.
Elio berhenti bicara ketika ia menyadari bahwa Sashi hanya diam mendengarkan. Ia terkekeh lalu berkata, "Kamu gimana kuliahnya? Kulihat di instastory, tugasnya bikin kurang tidur ya?"
Sashi terkesiap. Ada perasaan hangat di dada dan dingin di perutnya yang datang bersamaan. Elio memperhatikannya. Masih memperhatikannya. Selama ini, setiap kali nama Elio ada di daftar viewer instastorynya, Sashi mengira Elio hanya melihatnya sambil lalu. Tapi ternyata anak laki-laki itu mengingat dan memperhatikannya.
"Iya, lumayan banyak. Jadi sering ngantuk di kelas," kata Sashi sambil tersenyum.
"Oh ya? Sama dong! Aku juga sering ngantuk di kelas. Bukan karena tugasnya banyak sih, tapi kegiatannya. Kadang pulang malem banget, kadang nggak tidur," ujar Elio antusias. Ia kembali melanjutkan ceritanya tentang bagaimana teman-temannya begitu produktif dan menuntutnya untuk menjadi produktif juga. Ia bercerita tentang bagaimana ia masih sempat bermain di sela-sela praktik lapangannya. Ia bahkan menunjukkan foto-foto dari kegiatan sehari-harinya.
Dari sekian banyak foto yang Elio tunjukkan, Sashi memperhatikan bahwa ada satu wajah yang selalu ada di setiap kegiatan Elio. Sashi juga memperhatikan bahwa Elio selalu tersenyum lebar di semua foto-foto itu. Sesuatu menghantam batin Sashi ketika menyadari bahwa ia sudah lama tidak melihat senyuman itu. Entah kapan terakhir kali, Sashi tak ingat lagi. Bahkan sebelum kelulusan, Elio sudah jarang tersenyum selebar itu.
Elio masih asyik bercerita ketika Sashi menyela, "Kamu sering rindu Wates?"
Dahi Elio berkerut. "Jarang, kan aku sering pulang..."
Jawaban dari Elio mengirimkan perasaan dingin di sekujur tubuh Sashi. Bukan, bukan itu jawaban yang ia harapkan. Bagi Sashi, Wates bukan hanya tempat. Wates adalah orang-orang yang tinggal di dalamnya. Wates adalah kenangan-kenangan yang tersimpan rapi. Teman-teman Sashi selalu bertanya, apakah Sashi merindukan Jogja. Sashi selalu menjawab bahwa ia merindukan Wates. Iya, rindunya sespesifik itu.
"Tempat ini baru kan? Terakhir kali aku lihat, tempat ini belum ada," ujar Sashi setelah jeda hening yang cukup panjang setelah jawaban Elio. "Tapi tempat ini bagus. Aku bisa merasakan perkembangan Kulon Progo, Wates terutama."
"Iya Shi, bagus memang tempat ini," kata Elio lirih.
Mereka kembali terdiam. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Matahari mulai turun, langit mulai dibanjiri warna-warna cantik khas senja. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Adzan maghrib mulai terdengar dari berbagai tempat.
"Kamu rindu Wates, Shi?"
Sashi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu melihat jam tangannya. "Keretaku udah hampir berangkat, nih."
Elio mengangguk. "Ayo, kuantar ke stasiun."
Elio mengantar Sashi ke stasiun dengan motornya. Di stasiun, hampir semua teman-teman Sashi sudah masuk ke peron karena kereta mereka sudah hampir berangkat. Setengah berlari, Sashi berjalan menuju pintu masuk peron. Elio memanggilnya, namun Sashi hanya mengucapkan terima kasih singkat dan mengabaikannya.
Elio tidak berhenti, ia menahan kardus Sashi. Sashi terpaksa berhenti. "Kenapa?"
"Kamu rindu Wates, Shi?" tanya Elio, lagi.
Sashi menatap Elio beberapa detik sebelum menjawab, "Dulu aku nggak menyangka aku akan rindu Wates. Lalu, menjelang kelulusan, aku tau aku akan rindu Wates. Lalu sekarang, aku rindu Wates. Tapi mungkin, suatu hari nanti, aku akan tau bagaimana cara untuk berhenti merindukan Wates."
Elio mengangguk, lalu melepaskan Sashi.
Sashi segera berlari menuju peron. Elio berteriak memanggil Sashi ketika Sashi sudah sampai di dalam. Sashi menoleh, mendapati Elio sedang melambai kepadanya. Sashi balas melambai singkat, lalu segera berlari, meninggalkan Elio dari pandangannya.
Di Barat, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Namun, langit masih memberikan warna-warna indah terakhir sebelum sepenuhnya menjadi gelap. Bintang-bintang mulai terlihat, menggantikan keindahan senja yang hampir usai.
Sashi berhasil naik ke keretanya dan duduk bersama teman-temannya. Beberapa temannya menanyainya, mengapa ia begitu terlambat datang ke stasiun. Sashi hanya tersenyum.
Ada yang sengaja tidak ia katakan pada Elio. Bahwa mungkin saja, ia tidak akan pernah tau bagaimana cara untuk berhenti merindukan Wates. Bahwa perubahan di Wates memang hal yang bagus, tapi ada bagian dari dirinya yang tidak menyukai perubahan itu karena Wates yang sekarang tidak akan pernah sama dengan Wates yang selalu ia rindukan. Namun, Sashi tau ia tidak boleh egois. Perubahan itu perlu dilakukan kota kecil itu. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah menerima dan mendukung.
Elio,
My Elio
Here's me, letting you go
Not because I'm done loving you
But because I know that you need me to
Elio,
My Elio
It's okay
I'm letting you go
Bintaro, 24 Maret 2018
Masih dan selalu merindukan Wates,
irtupard
Elio menatap Sashi beberapa detik sebelum menjawab. "Baik dong. Lumayan sibuk juga di kampus."
Elio terus memaparkan tentang kegiatan sehari-harinya di kampus, bagaimana ia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang normalnya tidak diikuti mahasiswa baru sepertinya. Sashi menyimak dengan baik, meski sebagian detail sudah diketahuinya lewat update instastory maupun whatsapp story yang rutin dibagikan Elio setiap hari. Meski begitu, ia masih terkejut akan betapa berbedanya Elio yang dulu satu SMA dengannya, dengan Elio yang sedang bercerita di hadapannya.
Dulu, Elio adalah siswa yang tidak menyukai perhatian. Ia tidak suka jika guru menunjuknya untuk maju ke depan atau menjawab pertanyaan. Ia tidak suka jika ia diminta untuk menjadi petugas upacara. Setiap hal yang tidak disukainya selalu ia ceritakan kepada Sashi melalui diskusi-diskusi panjang dan dalam.
Elio berhenti bicara ketika ia menyadari bahwa Sashi hanya diam mendengarkan. Ia terkekeh lalu berkata, "Kamu gimana kuliahnya? Kulihat di instastory, tugasnya bikin kurang tidur ya?"
Sashi terkesiap. Ada perasaan hangat di dada dan dingin di perutnya yang datang bersamaan. Elio memperhatikannya. Masih memperhatikannya. Selama ini, setiap kali nama Elio ada di daftar viewer instastorynya, Sashi mengira Elio hanya melihatnya sambil lalu. Tapi ternyata anak laki-laki itu mengingat dan memperhatikannya.
"Iya, lumayan banyak. Jadi sering ngantuk di kelas," kata Sashi sambil tersenyum.
"Oh ya? Sama dong! Aku juga sering ngantuk di kelas. Bukan karena tugasnya banyak sih, tapi kegiatannya. Kadang pulang malem banget, kadang nggak tidur," ujar Elio antusias. Ia kembali melanjutkan ceritanya tentang bagaimana teman-temannya begitu produktif dan menuntutnya untuk menjadi produktif juga. Ia bercerita tentang bagaimana ia masih sempat bermain di sela-sela praktik lapangannya. Ia bahkan menunjukkan foto-foto dari kegiatan sehari-harinya.
Dari sekian banyak foto yang Elio tunjukkan, Sashi memperhatikan bahwa ada satu wajah yang selalu ada di setiap kegiatan Elio. Sashi juga memperhatikan bahwa Elio selalu tersenyum lebar di semua foto-foto itu. Sesuatu menghantam batin Sashi ketika menyadari bahwa ia sudah lama tidak melihat senyuman itu. Entah kapan terakhir kali, Sashi tak ingat lagi. Bahkan sebelum kelulusan, Elio sudah jarang tersenyum selebar itu.
Elio masih asyik bercerita ketika Sashi menyela, "Kamu sering rindu Wates?"
Dahi Elio berkerut. "Jarang, kan aku sering pulang..."
Jawaban dari Elio mengirimkan perasaan dingin di sekujur tubuh Sashi. Bukan, bukan itu jawaban yang ia harapkan. Bagi Sashi, Wates bukan hanya tempat. Wates adalah orang-orang yang tinggal di dalamnya. Wates adalah kenangan-kenangan yang tersimpan rapi. Teman-teman Sashi selalu bertanya, apakah Sashi merindukan Jogja. Sashi selalu menjawab bahwa ia merindukan Wates. Iya, rindunya sespesifik itu.
"Tempat ini baru kan? Terakhir kali aku lihat, tempat ini belum ada," ujar Sashi setelah jeda hening yang cukup panjang setelah jawaban Elio. "Tapi tempat ini bagus. Aku bisa merasakan perkembangan Kulon Progo, Wates terutama."
"Iya Shi, bagus memang tempat ini," kata Elio lirih.
Mereka kembali terdiam. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Matahari mulai turun, langit mulai dibanjiri warna-warna cantik khas senja. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Adzan maghrib mulai terdengar dari berbagai tempat.
"Kamu rindu Wates, Shi?"
Sashi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu melihat jam tangannya. "Keretaku udah hampir berangkat, nih."
Elio mengangguk. "Ayo, kuantar ke stasiun."
Elio mengantar Sashi ke stasiun dengan motornya. Di stasiun, hampir semua teman-teman Sashi sudah masuk ke peron karena kereta mereka sudah hampir berangkat. Setengah berlari, Sashi berjalan menuju pintu masuk peron. Elio memanggilnya, namun Sashi hanya mengucapkan terima kasih singkat dan mengabaikannya.
Elio tidak berhenti, ia menahan kardus Sashi. Sashi terpaksa berhenti. "Kenapa?"
"Kamu rindu Wates, Shi?" tanya Elio, lagi.
Sashi menatap Elio beberapa detik sebelum menjawab, "Dulu aku nggak menyangka aku akan rindu Wates. Lalu, menjelang kelulusan, aku tau aku akan rindu Wates. Lalu sekarang, aku rindu Wates. Tapi mungkin, suatu hari nanti, aku akan tau bagaimana cara untuk berhenti merindukan Wates."
Elio mengangguk, lalu melepaskan Sashi.
Sashi segera berlari menuju peron. Elio berteriak memanggil Sashi ketika Sashi sudah sampai di dalam. Sashi menoleh, mendapati Elio sedang melambai kepadanya. Sashi balas melambai singkat, lalu segera berlari, meninggalkan Elio dari pandangannya.
Di Barat, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Namun, langit masih memberikan warna-warna indah terakhir sebelum sepenuhnya menjadi gelap. Bintang-bintang mulai terlihat, menggantikan keindahan senja yang hampir usai.
Sashi berhasil naik ke keretanya dan duduk bersama teman-temannya. Beberapa temannya menanyainya, mengapa ia begitu terlambat datang ke stasiun. Sashi hanya tersenyum.
Ada yang sengaja tidak ia katakan pada Elio. Bahwa mungkin saja, ia tidak akan pernah tau bagaimana cara untuk berhenti merindukan Wates. Bahwa perubahan di Wates memang hal yang bagus, tapi ada bagian dari dirinya yang tidak menyukai perubahan itu karena Wates yang sekarang tidak akan pernah sama dengan Wates yang selalu ia rindukan. Namun, Sashi tau ia tidak boleh egois. Perubahan itu perlu dilakukan kota kecil itu. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah menerima dan mendukung.
Elio,
My Elio
Here's me, letting you go
Not because I'm done loving you
But because I know that you need me to
Elio,
My Elio
It's okay
I'm letting you go
Bintaro, 24 Maret 2018
Masih dan selalu merindukan Wates,
irtupard
Komentar
Posting Komentar