Jumat, 20 Juli 2018
15.29
Kak Bertrand : Kosmu dimana?
Putri : Ponsaf kak. Ada apakah?
*read*
20.04
Kak Bertrand : Lagi belajar di luar apa di kos?
Putri : Di kos kak. Kenapa ta?
Kak Bertrand : Aku mampirin ke kos sebentar ya. Jam 20.45 lah.
Hehe okay backstory sedikit ya.
Jadi siangnya hari itu, aku menceritakan kepada Kak Bertrand tentang permasalahan yang terjadi di angkatanku (Hai, Catra!) Seperti biasa, Kak Bertrand memberikan nasehat yang mantap sekali dan aku langsung kembali merasa bersemangat, apalagi menjelang UAS semester 2 yang akan dimulai hari Senin.
Lalu kemudian, Kak Bertrand mengirimkan pesan itu.
Saat menerima pesan pertama, aku masih di kampus bersama teman-teman, kalau tidak salah, sedang keluar dari ruangan selepas kelas Manajemen (kelas terakhir di semester dua!). Ketika menerima pesan ke dua, aku sedang belajar Makroekonomi di kosan (yak, detail unfaedah menyerbumu).
Sambil menunggu Kak Bertrand datang, aku lanjut belajar. Tapi ternyata rasa kantuk malah menyerang karena saat itu aku sedang flu sehingga badan rasanya lemas. Akupun ketiduran sebentar.
Kemudian aku terbangun mendengar suara hapeku berdering, menandakan ada panggilan masuk. Aku langsung keluar. Dan di sanalah Kak Bertrand, di depan kosku, dengan mesin motor yang masih menyala.
(Kos-kosan yang kutempati adalah kos muslimah, jadi tamu laki-laki tidak diizinkan masuk gerbang).
Kami kemudian membicarakan tentang berbagai hal, angkatan, jurusan, persiapan(ku) ujian. Kak Bertrand kembali memberikan wejangan untukku dan angkatan (keren banget emang Kakaknya). Kemudian, Kak Bertrand menyerahkan plastik Indomared berisi jajanan kepadaku, katanya untuk teman aku belajar.
Aku mengucapkan terimakasih, kemudian Kak Bertrand pulang.
Setelah masuk kos, aku senang sekali karena sudah sekitar semingguan aku melihat instastory teman-teman yang isinya adalah snack + ucapan penyemangat belajar dalam rangka ujian. Saat itu, aku belum mendapat satu pun hal semacam itu. Yah walaupun paket penyemangat dari Kak Bertrand tidak ada ucapannya, aku tetap senang.
Aku kemudian memeriksa isi plasti tersebut. TERNYATA ADA UCAPANNYA :')
Aku seneng dua kali lipat dong? Mana kertasnya pink, cocok banget sama jadwal ujian ala-ala bikinanku yang tonenya pink merah?! (ga penting sih)
Skip ke hari berkutnya.
Aku masih senang. Semakin banyak orang yang membuat instastory berisi paket penyemangat plus ucapan yang so sweet minta ampun.
Lama-lama... Aku merasakan sesuatu yang janggal.
Hanya sedikit sekali teman angkatanku yang sudah upload instastory seperti itu. Apakah mereka memang belum dapat sama sekali atau memang mereka tidak suka membagikannya lewat instastory?
Tapi... aku juga hanya dapat dari Kak Bertrand.
Kemudian aku terpikir betapa SENANGnya aku ketika mendapat paket itu dari Kak Bertrand. Aku merasa... penting? dihargai? diperhatikan?
Intinya, aku merasa senang dan lebih bersemangat.
Bagaimana jika... ada seorang temanku yang sekarang sedang menunggu-nunggu juga momentum penyemangat berbentuk apapun? Bagaimana bila ada temanku yang sedang malas sekali belajar karena lupa apa tujuannya di sini, untuk siapa dia berjuang?
OKAY I'LL BE THEIR KAK BERTRAND
(is that weird?)
Jadi, malam itu juga aku mulai memotong kertas dan menulis ucapan penyemangat untuk masing-masing teman angkatanku dan beberapa teman dekat yang lain (Hai Irul, Imam, Pandan). Aku berusaha membuat kartu ucapan itu sepersonal mungkin dengan sumber daya tenaga dan waktu yang terbatas menjelang UAS.
Yah, kartu ucapannya tidak selesai malam itu juga karena aku harus lanjut menyicil belajar Makroekonomi tercinta.
Paginya, aku pergi ke Harmony Swalayan ditemani serorang teman (Hai Mia!) untuk membeli snack pengiring kartu ucapan tersebut. Kenapa kubilang pengiring? Karena snack yang kubeli tidak bernilai seberapa, dikarenakan budget lineku yang masih jauh di kiri mendekati titik nol (hehe). Kemudian aku menyelesaikan paket penyemangat itu di kosan Mia.
Dan... akhirnya selesai juga proses packaging dan finishingnya hehehehehehe
Hari pertama UAS, aku membagikan paket tersebut ke semua temanku dengan bantuan Baskoro. Rasa bahagiaku meluap melihat ekspresi terkejut teman-teman, terutama anak-anak cowok. Beberapa mengucapkan terimakasih secara personal, beberapa membagikan foto paket itu melalui instastory.
Hari itu aku berharap aku telah melakukan sesuatu yang benar dan tepat.
Senin, 29 Oktober 2018
Hari ini adalah hari pertama UTS semester 3 untuk kami. Alhamdulillah, semua teman angkatanku berhasil melalui semester 2 dengan baik sehingga kami masih full team sampai saat ini dan semoga sampai wisuda.
Hari ini, ada banyak hal yang terjadi. Aku baru kembali ke kosan setelah belajar bersama di KFC Sekbil pukul 04.30 pagi. Berkat dobel espresso yang kuminum malam harinya, aku tidak mengantuk sampai pagi. Tapi aku tau, aku butuh tidur. Jadi, aku tidur.
Pukul 09.28 aku terbangun dan segera bersiap-siap. Ruang ujian kami di F204. Lumayan jauh dari kosku yang sudah pindah ke Kalimongso (sebenarnya meski kosku masih di Ponsaf, tetap sama-sama jauh). Aku sampai di kampus tepat sebelum ujian dimulai. Jadi, aku segera meletakkan tas dan plastik Alfamidas yang kubawa di bagian depan ruang ujian.
Mata kuliah pertama adalah Perpajakan I. Tidak, aku tidak akan membicarakan detailnya. Intinya, aku keluar sekitar setengah jam sebelum waktu habis. Jangan, jangan berasumsi bahwa aku bisa mengerjakan soal dengan lancar maupun sebaliknya.
Teman-temanku yang lain segera menyusul keluar setelahnya. Aku meminta bantuan Rizal dan Dhiya untuk membagikan isi kantong plastikku.
Paket penyemangat belajar edisi UTS.
Aku tau, paket yang kuberikan tidak bisa menjadi lambang apa-apa. Tapi ketika membuatnya satu persatu, aku mencurahkan berbagai perasaan; bangga, sayang, khawatir, semangat, dan ribuan perasaan lain yang menaungiku menjelang UTS semester 3 ini.
Aku juga tau, paket yang kubuat tidak lantas membuat aku menjadi orang yang paling mempedulikan teman-teman. Pasti ada di luar sana orang yang lebih banyak mendoakan, berkorban, dan berjuang untuk teman-teman.
Tetapi, menurutku, rasa sayang dan peduli itu sesekali harus diperlihatkan. Karena di dunia yang semakin rumit ini, terkadang sulit mempercayai perasaan yang tidak bisa kita lihat, sentuh, atau dengarkan.
-irtupard-
15.29
Kak Bertrand : Kosmu dimana?
Putri : Ponsaf kak. Ada apakah?
*read*
20.04
Kak Bertrand : Lagi belajar di luar apa di kos?
Putri : Di kos kak. Kenapa ta?
Kak Bertrand : Aku mampirin ke kos sebentar ya. Jam 20.45 lah.
Hehe okay backstory sedikit ya.
Jadi siangnya hari itu, aku menceritakan kepada Kak Bertrand tentang permasalahan yang terjadi di angkatanku (Hai, Catra!) Seperti biasa, Kak Bertrand memberikan nasehat yang mantap sekali dan aku langsung kembali merasa bersemangat, apalagi menjelang UAS semester 2 yang akan dimulai hari Senin.
Lalu kemudian, Kak Bertrand mengirimkan pesan itu.
Saat menerima pesan pertama, aku masih di kampus bersama teman-teman, kalau tidak salah, sedang keluar dari ruangan selepas kelas Manajemen (kelas terakhir di semester dua!). Ketika menerima pesan ke dua, aku sedang belajar Makroekonomi di kosan (yak, detail unfaedah menyerbumu).
Sambil menunggu Kak Bertrand datang, aku lanjut belajar. Tapi ternyata rasa kantuk malah menyerang karena saat itu aku sedang flu sehingga badan rasanya lemas. Akupun ketiduran sebentar.
Kemudian aku terbangun mendengar suara hapeku berdering, menandakan ada panggilan masuk. Aku langsung keluar. Dan di sanalah Kak Bertrand, di depan kosku, dengan mesin motor yang masih menyala.
(Kos-kosan yang kutempati adalah kos muslimah, jadi tamu laki-laki tidak diizinkan masuk gerbang).
Kami kemudian membicarakan tentang berbagai hal, angkatan, jurusan, persiapan(ku) ujian. Kak Bertrand kembali memberikan wejangan untukku dan angkatan (keren banget emang Kakaknya). Kemudian, Kak Bertrand menyerahkan plastik Indomared berisi jajanan kepadaku, katanya untuk teman aku belajar.
Aku mengucapkan terimakasih, kemudian Kak Bertrand pulang.
Setelah masuk kos, aku senang sekali karena sudah sekitar semingguan aku melihat instastory teman-teman yang isinya adalah snack + ucapan penyemangat belajar dalam rangka ujian. Saat itu, aku belum mendapat satu pun hal semacam itu. Yah walaupun paket penyemangat dari Kak Bertrand tidak ada ucapannya, aku tetap senang.
Aku kemudian memeriksa isi plasti tersebut. TERNYATA ADA UCAPANNYA :')
Aku seneng dua kali lipat dong? Mana kertasnya pink, cocok banget sama jadwal ujian ala-ala bikinanku yang tonenya pink merah?! (ga penting sih)
Skip ke hari berkutnya.
Aku masih senang. Semakin banyak orang yang membuat instastory berisi paket penyemangat plus ucapan yang so sweet minta ampun.
Lama-lama... Aku merasakan sesuatu yang janggal.
Hanya sedikit sekali teman angkatanku yang sudah upload instastory seperti itu. Apakah mereka memang belum dapat sama sekali atau memang mereka tidak suka membagikannya lewat instastory?
Tapi... aku juga hanya dapat dari Kak Bertrand.
Kemudian aku terpikir betapa SENANGnya aku ketika mendapat paket itu dari Kak Bertrand. Aku merasa... penting? dihargai? diperhatikan?
Intinya, aku merasa senang dan lebih bersemangat.
Bagaimana jika... ada seorang temanku yang sekarang sedang menunggu-nunggu juga momentum penyemangat berbentuk apapun? Bagaimana bila ada temanku yang sedang malas sekali belajar karena lupa apa tujuannya di sini, untuk siapa dia berjuang?
OKAY I'LL BE THEIR KAK BERTRAND
(is that weird?)
Jadi, malam itu juga aku mulai memotong kertas dan menulis ucapan penyemangat untuk masing-masing teman angkatanku dan beberapa teman dekat yang lain (Hai Irul, Imam, Pandan). Aku berusaha membuat kartu ucapan itu sepersonal mungkin dengan sumber daya tenaga dan waktu yang terbatas menjelang UAS.
Yah, kartu ucapannya tidak selesai malam itu juga karena aku harus lanjut menyicil belajar Makroekonomi tercinta.
Paginya, aku pergi ke Harmony Swalayan ditemani serorang teman (Hai Mia!) untuk membeli snack pengiring kartu ucapan tersebut. Kenapa kubilang pengiring? Karena snack yang kubeli tidak bernilai seberapa, dikarenakan budget lineku yang masih jauh di kiri mendekati titik nol (hehe). Kemudian aku menyelesaikan paket penyemangat itu di kosan Mia.
Dan... akhirnya selesai juga proses packaging dan finishingnya hehehehehehe
Hari pertama UAS, aku membagikan paket tersebut ke semua temanku dengan bantuan Baskoro. Rasa bahagiaku meluap melihat ekspresi terkejut teman-teman, terutama anak-anak cowok. Beberapa mengucapkan terimakasih secara personal, beberapa membagikan foto paket itu melalui instastory.
Hari itu aku berharap aku telah melakukan sesuatu yang benar dan tepat.
Senin, 29 Oktober 2018
Hari ini adalah hari pertama UTS semester 3 untuk kami. Alhamdulillah, semua teman angkatanku berhasil melalui semester 2 dengan baik sehingga kami masih full team sampai saat ini dan semoga sampai wisuda.
Hari ini, ada banyak hal yang terjadi. Aku baru kembali ke kosan setelah belajar bersama di KFC Sekbil pukul 04.30 pagi. Berkat dobel espresso yang kuminum malam harinya, aku tidak mengantuk sampai pagi. Tapi aku tau, aku butuh tidur. Jadi, aku tidur.
Pukul 09.28 aku terbangun dan segera bersiap-siap. Ruang ujian kami di F204. Lumayan jauh dari kosku yang sudah pindah ke Kalimongso (sebenarnya meski kosku masih di Ponsaf, tetap sama-sama jauh). Aku sampai di kampus tepat sebelum ujian dimulai. Jadi, aku segera meletakkan tas dan plastik Alfamidas yang kubawa di bagian depan ruang ujian.
Mata kuliah pertama adalah Perpajakan I. Tidak, aku tidak akan membicarakan detailnya. Intinya, aku keluar sekitar setengah jam sebelum waktu habis. Jangan, jangan berasumsi bahwa aku bisa mengerjakan soal dengan lancar maupun sebaliknya.
Teman-temanku yang lain segera menyusul keluar setelahnya. Aku meminta bantuan Rizal dan Dhiya untuk membagikan isi kantong plastikku.
Paket penyemangat belajar edisi UTS.
Aku tau, paket yang kuberikan tidak bisa menjadi lambang apa-apa. Tapi ketika membuatnya satu persatu, aku mencurahkan berbagai perasaan; bangga, sayang, khawatir, semangat, dan ribuan perasaan lain yang menaungiku menjelang UTS semester 3 ini.
Aku juga tau, paket yang kubuat tidak lantas membuat aku menjadi orang yang paling mempedulikan teman-teman. Pasti ada di luar sana orang yang lebih banyak mendoakan, berkorban, dan berjuang untuk teman-teman.
Tetapi, menurutku, rasa sayang dan peduli itu sesekali harus diperlihatkan. Karena di dunia yang semakin rumit ini, terkadang sulit mempercayai perasaan yang tidak bisa kita lihat, sentuh, atau dengarkan.
-irtupard-

Komentar
Posting Komentar