Langsung ke konten utama

This is Basically a Love Letter (feat. Social Distancing)


Update : Tiga Minggu Pertama PKL
PKL sudah dimulai sejak 3 Februari 2020 lalu. Sampai saat ini, sudah tiga minggu terlewati. Banyak hal yang sudah didapat, namun tentunya masih banyak yang akan datang.
Tiga minggu pertama, aku menemukan berbagai tantangan terutama dalam hal menyesuaikan diri. Jika biasanya aku hanya perlu berjalan 5—10 menit untuk sampai di ruang kelas untuk kuliah, selama PKL aku perlu waktu 25—30 menit untuk sampai di kantor dengan berjalan kaki. Itu pun apabila cuaca sedang cerah dan tidak hujan.
Selain jarak yang relatif lebih jauh, pressure yang dirasakan juga muncul dari ketepatan waktu. Meski tempatku PKL tidak menerapkan absensi fingerprint akan tetapi aku selalu berusaha untuk sampai di kantor sebelum pukul 07.30. Sementara ketika perkuliahan pagi, meski terjadwal dimulai pukul 07.30 juga, namun masih terdapat kemungkinan fleksibilitas dosen terlambat datang beberapa menit.
Hal tersebut membuat aku tidur jauh lebih awal pada malam hari. Jika biasanya aku hampir selalu tidur setelah tengah malam, sekarang aku akan selalu sudah di tempat tidur dengan lampu redup sebelum pukul sebelas. Selain karena jarak yang lebih jauh, karena aku memiliki teman sekamar, makan aku harus bangun lebih pagi karena harus bergantian mandi dan bersiap-siap.
Pada beberapa minggu terakhir perkuliahan, aku sempat mencoba program intermittent fasting yang membuatku memiliki lebih banyak waktu di pagi hari karena tidak harus menyiapkan sarapan. Akan tetapi, meski bukan tidak mungkin, aku merasa ketika PKL ini akan sedikit lebih tidak mudah karena pagi-pagi saja aku sudah harus berjalan selama hampir setengah jam sehingga aku perlu sarapan terlebih dahulu.
Memang banyak hal yang membutuhkan proses penyesuaian. Namun, layaknya sebuah proses, penyesuaian tidak berjalan selamanya. Setelah tiga minggu, perjalanan pagi tidak lagi terasa terlalu melelahkan. Tidur malam sudah mulai berani begadang lagi. Ritme yang pas untuk siap-siap pagi pun sudah ditemukan.

UPDATE! 17 Maret 2020
Minggu ini harusnya adalah minggu ke 6 PKL. Akan tetapi, seperti yang sudah teman-teman ketahui, akibat virus COVID-19, kegiatan PKL mengikuti kebijakan instansi dan imbauan kampus yaitu dilakukan dengan Work from Home.
Kampus mengimbau teman-teman yang PKL di Jabodetabek untuk tidak pulang ke kampung halaman masing-masing karena dikhawatirkan akan menyebarkan virus. Maka dari itu, banyak teman-teman yang kemudian tetap berada di Bintaro maupun Jakarta untuk kemudian melakukan social distancing selama WFH. Meski begitu, tetap ada teman-teman yang memutuskan untuk pulang kampung.
Aku sendiri tentu saja sangat ingin pulang. Tetapi, aku tidak mau mengambil risiko menulari ibu di rumah. Apalagi ibu sekarang sedang merawat nenek yang sudah sangat sepuh sehingga risikonya sangat besar. Tentunya aku rindu dan kesepian. Apalagi dalam keadaan harus meminimalkan bepergian keluar atau beramai-ramai.
Alhamdulillah, ada berbagai hal yang masih bisa dilakukan. Mulai dari pekerjaan dari kantor yang sudah ditugaskan, membaca buku yang belum selesai, dan mendengarkan album baru Niall Horan (ha). Selain itu, tak kalah penting juga memperbanyak ibadah dan menjaga kesehatan fisik maupun mental.
Saranku, tetaplah menjaga etos kerja meski tidak berada di kantor. Jangan lupa makan sayur jangan melulu mie instan saja. Olahragalah meski sebentar setiap sehari atau dua hari. Tetap jaga hubungan dengan keluarga dan teman-teman melalui chat maupun media social. Sebarkan kebaikan, saling tolong menolong sebisa mungkin.
Post kali ini agak (sangat) kacau, mungkin agak mencerminkan keadaan saat ini. Tetapi, mari kita berdoa agar bulan depan semuanya sudah membaik dan terkendali. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dari peristiwa ini. Selalu bersabar dan berbaik sangka kepada Allah. Tidak ada kejadian yang tidak beralasan, asal kita tidak menyerah mencari hikmah, insyaallah. We’ll get through this.
Sampai jumpa bulan depan. Stay safe.

-irtupard

Komentar

Postingan populer dari blog ini

why birthdays are sad

  Hari ulangtahun adalah hari yang secara umum dianggap sebagai hari bahagia . Sebagian orang mungkin menganggap ulangtahun sebagai hari biasa , tidak ada yang perlu dirayakan . Keduanya valid, kita semua punya alasan ( ataupun tidak ). Kita mungkin sudah sering mendengar kedua hal tersebut , orang yang menganggap hari ulangtahun sebagai hari spesial dan orang yang biasa saja . Namun , taukah kamu beberapa orang justru sedih atau sendu pada hari ulangtahunnya ?   Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai birthday blues , sebagian yang lain menyebutnya sebagai birthday depression . M ungkin ad a banya k nam a dan sebuta n lain untu k fenom en a in i . Jau h sebelu m ak u mula i mencar i tah u mengena i ha l in i , ak u suda h serin g bertanya-tany a kepad a dirik u sendir i , mengap a serin g kali ak u meras a send u , sedi h , gunda h , gala u , meran a pada har i ulang tahunk u ? Peras...

About November

Ketika aku menulis ini, di luar sedang hujan. Aku sedang mengambil jeda sejenak di antara jadwal belajarku untuk mempersiapkan UTS semester 7. UTS kali ini, aku belajar lebih banyak, karena lebih banyak ketertinggalan yang kumiliki. Meski semester lalu sudah menjalani rutinitas yang kurang lebih sama, belajar di rumah dalam artian yang sebenarnya, namun semester ini banyak hal yang berbeda. Tidak ada lagi hitung-hitungan memusingkan kepala, yang ada adalah materi yang menuntut ketenangan dan kejernihan pemahaman. Sambil menulis ini, selain ditemani deru deras hujan, playlist Spotify berjudul    it's raining and you're looking at the window at 2 am   meminjamiku tambahan nuansa sendu. Untuk pertamakalinya dalam empat tahun, aku menikmati November di rumah. November tidak dikenal sebagai bulan apa-apa bagi sebagian orang, kecuali kawan-kawan kampus yang mungkin mengasosiasikan November dengan UTS. Namun bagiku, November tentu saja bulan yang tidak biasa. Aku tidak se...

Will You Miss Me?

Bakal kangen aku ra? Will you miss me? Beberapa dari teman-temanku menerima pesan semacam itu dariku malam itu. Aku mengirim pesan itu kepada 54 kontak whatsapp. Tidak semuanya terkirim, beberapa sudah berganti nomor dan alhasil pesan itu tidak sampai. Tapi Alhamdulillah 95% sampai. Beberapa langsung menjawab, beberapa bertanya ‘ngopo e Put?’ Jadi, kenapa? Diawali percakapan dengan salah seorang teman (Jamil, haha), kami membicarakan tentang satu kalimat pendek. ‘People change’. Kami membahas beberapa teori khas remaja (haha) seperti bahwa ‘semua orang berubah, hanya saja ketika seseorang berubah dan seorang yang lain berubah, perubahan mereka bisa menuju ke arah yang sama dan cocok atau menuju arah yang berlawanan yang membuat mereka merasa tidak menyukai satu sama lain’. Selain itu juga teori bahwa ‘seseorang selalu berubah menjadi seseorang yang dia bilang tidak akan jadi seperti itu’. Apaan sih, hehe. Lalu aku mulai bertanya-tanya, ‘Aku juga berubah don...