Ya ampun, sudah bulan Agustus.
Belum nulis buat Juli! Sumpah sebenernya banyak yang pengen
ditulis.
Jadi, untuk memulai tulisan ini, aku ingin meminta maaf atas
keterlambatan dan ketidaktepatan waktu penulisan. Tulisan ini akan dijadikan
tulisan bulan Juli, dan untuk bulan Agustus akan ada tulisan yang berbeda.
Topik kali ini: Buku
Mungkin teman-teman yang mengikuti akun Instagramku sudah
sangat Lelah dengan segala konten mengenai buku yang kubuat. Namun, aku tidak
akan memungkiri bahwa buku membuatku sangat senang. Beberapa minggu terakhir,
aku menjadi sangat terobsesi dengan buku. Rekomendasi YouTube yang awalnya
penuh berisi mukbang dan ASMR berubah menjadi video-video booktuber mengenai
review dan rekomendasi buku.
The Reading Rush
Suatu hari, aku menemukan suatu video yang membahas mengenai
The Reading Rush.
The Reading Rush adalah event ‘membaca’ yang digelar secara
daring dan dapat diikuti oleh peserta dari seluruh bagian dunia. Aku sangat
tertarik untuk ikut setelah melihat antusiasme calon peserta lain dan challenge
yang dibuat dalam event itu. Namun, saat itu aku masih ragu untuk
berpartisipiasi karena tidak yakin apakah akan bisa menyelesaikan challenge
yang dibuat. Meski challenge itu dibuat just for fun, namun
mengetahui watakku sendiri, aku tau bahwa aku tidak akan bisa menerima
ketidakberhasilan menyelesaikan challenge.
Namun, aku tidak bisa berhenti memikirkan event itu. Dari
hal itu lah aku tau bahwa aku memang harus ikut.
Aku memutuskan untuk ikut dan mulai
memilih buku-buku untuk menyelesaikan setiap challenge. Salah satu challenge
membuatku harus membeli buku yang akhirnya kubeli dalam satu seri (6 buku),
untung saja dengan harga diskon (bundle). Challenge lain
membuatku harus meminjam buku milik temanku.
Beberapa hari menjelang dimulainya
event itu, aku sangat deg-degan dan bersemangat. Aku menjadi dengan impulsive
membaca banyak buku lain untuk sekadar ‘pemanasan’. Satu hari sebelum TRR dimulai,
aku malah mulai membaca buku yang tidak termasuk dalam daftar bacaan.
Ketika akhirnya event dimulai,
aku sangat senang. Aku menghabiskan hampir semua waktu luangku untuk membaca
buku. Salah satu challenge membuatku harus membaca buku di luar rumah,
jadi aku sering menghabiskan waktu sore hari untuk membaca di taman samping
rumahku.
Menyenangkan? Sangat. Aku membuat
target-target harian berupa halaman yang harus kubaca dalam sehari. Sebelumnya aku
sudah menjumlahkan seluruh halaman dari buku-buku yang akan kubaca. Setiap hari
aku melampaui target itu. Bahkan di sela-sela membaca buku dari daftar bacaan,
aku membaca buku lain dari aplikasi iPusnas.
Namun sayangnya, aku jadi tidak
belajar. Jangankan belajar, mengerjakan tugas saja aku cukup keteteran. Aku beruntung
karena minggu itu tidak ada kuis di semua mata kuliahku. Memang, keseimbangan
adalah hal yang wajib dimiliki dalam hal apapun.
Semua buku di daftar bacaan
berhasil kuselesaikan pada hari ke enam event. Masih ada satu hari
tersisa yang kugunakan untuk mengejar ketertinggalan tugas kuliah. Total ada 4
buku daftar bacaan dan 3 buku non-daftar bacaan yang kuselesaikan. Daftar bacaan
itu terdiri atas 1596 halaman.
Menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Setelah event berakhir, aku
agak kelimpungan karena kehabisan buku bacaan. Aku mulai mengeksplor aplikasi
iPusnas untuk mendapatkan buku bacaan gratis dan legal. Namun ternyata aku
masih mengalami kesulitan untuk membaca dengan bentuk digital karena sangat
dekat dengan berbagai distraksi.
Book Club
Salah seorang teman pernah
menanyaiku apakah aku tergabung dalam suatu klub buku. Saat itu aku tidak tau apa
itu klub buku.
Setelah event The Reading Rush,
aku dihantam oleh keinginan untuk mencari tahu mengenai klub buku. Setelah browsing
ke sana kemari, aku merasa tertarik untuk membuat klub buku.
Lebih dari sekali beberapa teman
menunjukkan bahwa dia baru saja menyelesaikan sebuah buku dan membuat ulasan
singkat di Instastory. Mereka menandai akunku (@irtupard) dan menuliskan bahwa
mereka terinspirasi dariku.
Aku selalu terkejut dan tidak percaya
setiap kali mendapat notifikasi dari post semacam itu. Aku hanya membaca untuk
bersenang-senang, dan yang kubaca pun buku ringan-ringan.
Namun, hal tersebut yang kemudian
membuatku sangat ingin membuat klub buku. Setelah berkenalan dengan
iPusnas, aku melihat potensi pemanfaatan aplikasi itu untuk meningkatkan minat baca
teman-teman yang mungkin selama ini, terutama di masa-masa saat ini, merasa
enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku.
Oleh karena itu, aku kemudia memutuskan
untuk membuat klub buku daring yang menggunakan aplikasi iPusnas sebagai sumber
bacaan utama. Aku ingin mengajak teman-teman untuk memanfaatkan aplikasi gratis
itu sekaligus membantu teman-teman menemukan buku yang menarik.
Namun, ada alasan lain.
Aku menyadari bahwa aku sangat
sering mengunggah ulasan singkat kurang bermutu mengenai buku-buku yang baru
selesai kubaca. Selain itu, aku sering membagikan kiriman mengenai buku dari
penulis-penulis favoritku. Aku mulai berpikir bahwa banyak pengikut akun
Instagramku yang tidak terlalu menyukai konten seperti itu dan mungkin merasa
terganggu.
Aku tau, akunku, aturanku. Maka dari
itu, akunku, aturanku. Aku membuat akun baru untuk hobi membacaku.
Whoah, aku tidak sering
menyatakan membaca sebagai hobi. Aku tidak merasa ‘cukup’ membaca untuk disebut
hobi.
![]() |
| logo yang dibuat menggunakan Canva |
Saat ini, klub bukuku (Irtupard’s
Book Club @readwithputri) baru berusia kurang dari seminggu. Aku berharap, akun
dari klub buku itu akan memberikan banyak manfaat kepada orang-orang di sekitarku
pada khususnya dan seluruh pengguna Instagram pada umumnya.
Semoga tetap lurus niatku.
-irtupard-
website

Uwuu semoga lancar klub bukunyaa
BalasHapusterima kasih!
Hapus