Langsung ke konten utama

R Version - VR Version - AR Version

 


R Version

Kotak-kotak di hadapanku tidak menunjukkan apapun selain dua digit nomor yang diikuti nama. Sambil mengetuk-ngetuk tangkai kacamata, aku menatap pantulan wajahku sendiri di ujung monitor laptop. Dari 31 peserta video call hari ini, seperti biasa, hanya 4 orang termasuk 1 orang dosen yang menyalakan kamera.

Aku meraih gelas kopiku dan menyeruputnya. Kuliah siang tidak pernah menyenangkan, baik di kampus maupun di rumah. Namun, setelah lebih dari satu semester menjalani kuliah jarak jauh, aku tidak lagi ingat seperti apa bedanya rasa kantuk yang kualami di ruang kelas dibanding rasa kantukku siang itu.

Kotak notifikasi tiba-tiba muncul di pojok kanan bawah monitorku. Salah seorang temanku mengirim foto hasil tangkapan layar dari video call ini. Akibat ketidakstabilan koneksi internet, sering kali video call tersendat dan menghasilkan gambar lucu dari ekspresi tidak terencana peserta video call. Korban siang ini adalah sang dosen sendiri.

Aku terkekeh kecil, namun tidak memberi respon di grup. Tidak pernah ada yang memberi respon di grup.


VR Version

Suara hitung mundur berdengung di sepenjuru ruangan. Aku menatap panik orang-orang di sekitarku. Aku melihat seseorang berwarna oranye bernama Jeruk Bali yang juga menatapku. Bulu kudukku meremang. Dia impostor.

Ketika hitung mundur mencapai angka satu, kami bersepuluh segera berlari untuk menjalankan tugas masing-masing. Aku baru berjalan tiga langkah ketika lampu di sepenjuru kabin berkedip-kedip kacau. Sial, batinku. Jeruk Bali sudah berulah.

Aku menuju ke ruang electricity untuk melihat apa yang terjadi. Namun, aku mengendap-endap karena aku yakin Jeruk Bali ada di sana juga. Aku harus berhati-hati karena bisa saja malah aku yang dituduh melakukan sabotase ini.

Seseorang berwarna biru berlari melewatiku menuju ruang electricity, aku mengikuti di belakangnya. Aku melihat Jeruk Bali dan seseorang berwarna hijau di sana. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Jeruk Bali membunuh si hijau.

Mengapa ia melakukan itu? Dengan saksi mata di sini?

Kami saling tatap. Sepertinya si biru belum menyadari apa yang terjadi. Aku segera berlari mendekatinya dan mematahkan lehernya.

Aku dan Jeruk Bali berlari bersama menuju kafetaria, siap membela satu sama lain.


AR Version

Tabung oksigen ini berat membebaniku. Dengan peluh yang mulai menetes meski baru lima belas menit yang lalu mandi, aku mempercepat langkah menuju kelas. Kuliah kami dimulai lima menit lagi. Sudah hampir pasti aku akan terlambat.

Orang-orang yang sama terlambatnya denganku berjalan tergopoh-gopoh di sepenjuru kampus, oksigen di punggung mereka sepertiku. Dari kejauhan aku melihat pintu ruang kelasku masih terbuka, seorang temanku berdiri di ambangnya. Maskernya yang berwarna merah cerah mencolok pandanganku yang sudah berjuang melawan silaunya matahari siang.

Temanku melambai-lambai ke arahku. Aku berusaha kembali mempercepat langkahku, dengan bodoh tidak menyadari bahwa apabila temanku masih bisa melambai-lambai seperti itu, berarti dosen belum hadir. Aku memasuki ruang kelas tepat ketika jam tanganku mengeluarkan bunyi beep beep yang menandakan pukul 13.20.

Anggota kelasku sudah lengkap, enam orang. Hari ini aku dapat giliran duduk jauh di ujung belakang. Aku bersyukur tidak lupa memakai kacamataku di balik kacamata pelindung yang kugunakan.

Dari balik baju pelindung, aku bisa merasakan pendingin ruangan bekerja ekstra keras siang itu. Seharusnya ruang kelas cukup dingin, mengingat hanya tujuh orang yang menempati. Namun demikianlah baju pelindung ini didesain, agar tidak ada satu partikelpun yang dapat menyentuh kulit kami.

Aku tidak bisa membayangkan kerja kelompok yang masih harus kuikuti selepas kelas, tanpa pendingin ruangan karena kami akan bekerja di luar ruangan. Namun, aku cukup senang melihat manusia lain di sekelilingku, berdiri dan bergerak sendiri, serta kemungkinan besar bernafas meski melalui tabung oksigen.

 - irtupard -

Tulisan ini terinspirasi dari concept photos Tomorrow x Together untuk minialbum ketiga mereka, Minisode 1: Blue Hour, yang akan rilis 26 Oktober 2020.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

why birthdays are sad

  Hari ulangtahun adalah hari yang secara umum dianggap sebagai hari bahagia . Sebagian orang mungkin menganggap ulangtahun sebagai hari biasa , tidak ada yang perlu dirayakan . Keduanya valid, kita semua punya alasan ( ataupun tidak ). Kita mungkin sudah sering mendengar kedua hal tersebut , orang yang menganggap hari ulangtahun sebagai hari spesial dan orang yang biasa saja . Namun , taukah kamu beberapa orang justru sedih atau sendu pada hari ulangtahunnya ?   Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai birthday blues , sebagian yang lain menyebutnya sebagai birthday depression . M ungkin ad a banya k nam a dan sebuta n lain untu k fenom en a in i . Jau h sebelu m ak u mula i mencar i tah u mengena i ha l in i , ak u suda h serin g bertanya-tany a kepad a dirik u sendir i , mengap a serin g kali ak u meras a send u , sedi h , gunda h , gala u , meran a pada har i ulang tahunk u ? Peras...

About November

Ketika aku menulis ini, di luar sedang hujan. Aku sedang mengambil jeda sejenak di antara jadwal belajarku untuk mempersiapkan UTS semester 7. UTS kali ini, aku belajar lebih banyak, karena lebih banyak ketertinggalan yang kumiliki. Meski semester lalu sudah menjalani rutinitas yang kurang lebih sama, belajar di rumah dalam artian yang sebenarnya, namun semester ini banyak hal yang berbeda. Tidak ada lagi hitung-hitungan memusingkan kepala, yang ada adalah materi yang menuntut ketenangan dan kejernihan pemahaman. Sambil menulis ini, selain ditemani deru deras hujan, playlist Spotify berjudul    it's raining and you're looking at the window at 2 am   meminjamiku tambahan nuansa sendu. Untuk pertamakalinya dalam empat tahun, aku menikmati November di rumah. November tidak dikenal sebagai bulan apa-apa bagi sebagian orang, kecuali kawan-kawan kampus yang mungkin mengasosiasikan November dengan UTS. Namun bagiku, November tentu saja bulan yang tidak biasa. Aku tidak se...

Will You Miss Me?

Bakal kangen aku ra? Will you miss me? Beberapa dari teman-temanku menerima pesan semacam itu dariku malam itu. Aku mengirim pesan itu kepada 54 kontak whatsapp. Tidak semuanya terkirim, beberapa sudah berganti nomor dan alhasil pesan itu tidak sampai. Tapi Alhamdulillah 95% sampai. Beberapa langsung menjawab, beberapa bertanya ‘ngopo e Put?’ Jadi, kenapa? Diawali percakapan dengan salah seorang teman (Jamil, haha), kami membicarakan tentang satu kalimat pendek. ‘People change’. Kami membahas beberapa teori khas remaja (haha) seperti bahwa ‘semua orang berubah, hanya saja ketika seseorang berubah dan seorang yang lain berubah, perubahan mereka bisa menuju ke arah yang sama dan cocok atau menuju arah yang berlawanan yang membuat mereka merasa tidak menyukai satu sama lain’. Selain itu juga teori bahwa ‘seseorang selalu berubah menjadi seseorang yang dia bilang tidak akan jadi seperti itu’. Apaan sih, hehe. Lalu aku mulai bertanya-tanya, ‘Aku juga berubah don...