“Bahagia” adalah suatu kata yang sering kali digunakan ketika seseorang diminta untuk menyebutkan hal yang ingin dirasakan atau digapai. Karena hal itu, “bahagia” bagiku terasa serius dan tidak main-main. Aku tidak merasa pantas “bahagia” ketika warteg langgananku buka, hal itu tidak luar biasa. Aku tidak merasa pantas “bahagia” ketika shuffle Spotify mengenalkanku pada lagu semi-indie baru, itulah cara kerja shuffle.
Bagaimana dengan “senang”?
Ketika iseng mencoba menterjemahkan “bahagia” ke Bahasa Inggris, Google Translate memberiku “happy” sebagai jawaban. Coba tebak jawaban apa yang Google Translate beri kepadaku ketika aku menterjemahkan “happy” ke Bahasa Indonesia?
Ya, senang.
Meski demikian, aku lebih nyaman merasa senang ketika warteg langgananku buka dan mendengar lagu semi-indie baru dari shuffle Spotify. Apakah aku senang? Sangat. Apakah aku bahagia? Hmm...
Beberapa hal terasa seperti itu bagiku: menyenangkan, namun tidak membahagiakan. Pada perjalananku ke Bintaro beberapa waktu yang lalu, aku menyambangi toko buku yang terletak di salah satu mal yang dulu semasa kuliah lumayan sering kukunjungi. Awalnya kukira, rasa familiar akan menang melawan waktu yang kulewatkan tanpa mengunjungi tempat itu. Ternyata aku salah. Aku hampir tidak mengingat apapun dari toko buku itu. Aku senang bisa mendatangi lagi tempat itu.
Setelah beberapa saat berkeliling, aku menyadari bahwa koleksi buku di tempat itu cukup berbeda dengan toko buku di dekat tempat tinggalku. Beberapa buku belum pernah aku lihat sebelumnya, beberapa yang lain adalah sequel dari buku yang pernah aku baca. Aku senang melihat buku-buku itu.
Salah satu buku yang kutemukan berjudul “Schadenfreude: Mengapa Kita Senang Melihat Orang Lain Susah. Aku memutuskan untuk membeli buku itu. Beberapa minggu (ya, minggu) kemudian, buku itu selesai kubaca.
Buku itu seperti menggarisbawahi jenis kesenangan yang kurasakan yang jarang kuperhatikan. Senang ketika orang lain susah? Yang benar saja. Tapi, memang benar. Aku memang mengalami perasaan “senang” ketika kesusahan tertentu menimpa orang lain.
Jangan salah paham, tentu saja aku memiliki moral. Aku tidak akan merasa “senang” ketika ada orang tidak kukenal dan tidak berdosa mengalami kesusahan seperti kecopetan atau semacamnya. Ada garis batas tidak terlihat yang memisahkan kepantasan dengan ketidakpantasan yang menghalangiku dari anggapan orang-orang bahwa aku aneh dan tidak memiliki hati. Garis tersebut kadang bergeser atau berubah menjadi agak samar, tapi tidak akan benar-benar hilang.
Lalu aku menyadari bahwa kemungkinan besar, orang-orang memiliki garis yang berbeda. Aku memutuskan untuk menanyai beberapa rekan kerjaku tentang Schadenfreude. Sebaik mungkin aku berusaha menjelaskan konsep yang sebenarnya tidak asing itu. Beberapa kali, aku ragu untuk memulai topik tentang sesuatu yang bisa dibilang tabu: menertawakan kemalangan orang lain, kurang lebih. Tapi aku merasa perlu dan ingin melihat dari sudut pandang orang-orang di sekitarku tentang hal ini.
Yang mengejutkanku adalah, betapa berbedanya garisku dengan garis orang-orang di sekitarku. Beberapa orang mengaku jarang sekali merasa senang ketika melihat kesusahan orang lain. Aku mencoba mengulik dan meminta mereka untuk jujur, karena aku tau tidak mudah untuk mengakui hal seperti itu. Orang macam apa yang senang melihat kesusahan orang lain? Tetap saja, sebagian dari mereka mengaku bahwa mereka jarang sekali merasakan schadenfreude. Dari kurang lebih lima contoh skenario yang kuberikan, sebagian besar dari mereka hanya setuju atas kemunculan rasa senang pada satu skenario. Jujur saja, dari semua skenario yang kugunakan sebagai contoh, semua itu memunculkan schadenfreude bagiku.
Oke, aku bisa jelaskan. At least let me try...
Sesuai penjelasan di dalam buku itu (yang berdasar pada penelitian dan kajian sungguhan, bukan sekadar opini, tidak seperti tulisan ini), schadenfraude bukanlah hal yang buruk. Perasaan sedih bukanlah hal yang buruk, begitu juga dengan perasaan senang, apapun sebabnya. Bahkan, schadenfreude dianggap sebagai salah satu sifat makhluk hidup yang sudah ada sejak zaman seleksi alam, ketika kesusahan orang lain (mati), berarti keselamatanmu.
Aku tidak akan menertawakan temanku yang hidupnya kuanggap sempurna ketika ia mengalami kemalangan seperti akun instagramnya terkena hack atau ia kesiangan masuk kerja karena gagal menepati deadline kemarin, setidaknya, tidak di depannya langsung. Sejujurnya, aku bahkan tidak akan bereaksi apapun di belakangnya. Tapi aku tidak akan berbohong dan mengatakan bahwa aku tidak merasakan apa-apa atas kesusahan yang menimpanya. Kesusahannya tidak mempengaruhiku secara langsung dalam hal apapun. Kemungkinan besar kami tidak akan bertemu sampai paling tidak sepuluh tahun lagi. Jadi, izinkanlah aku merasakan setitik schadenfreude yang juga tidak akan mempengaruhinya ini.
Schadenfreude juga bisa muncul dalam berbagai hubungan lain seperti pertemanan, persaudaraan, hubungan dengan kerja, atau bahkan dengan artis yang tidak mengenal kita. Benar, pada kemalanganmu selanjutnya, silakan berpikir bahwa aku kemungkinan besar mengalami schadenfreude atas hal itu. Namun, schadenfreude-ku tidak akan menghalangiku dari memberikan respon maupun bantuan yang kau butuhkan dariku.
Aku pernah bertanya pada seorang teman, bagaimana cara menilai suatu buku? Temanku menjawab, lihatlah seberapa besar buku itu mempengaruhimu. Dengan percaya diri kukatakan, aku sangat terpengaruh dengan buku itu. Kuberi buku itu bintang lima.
It's a bad deed, my bad wish
I'd like to try praying 'small evil deeds'
In my heart secretly secretly
I pray for misfortune, yeah
(Tomorrow X Together - Ice Cream, english translation by @translatingTXT)
Komentar
Posting Komentar